MCBerita
MCBerita, Jakarta - Warga Kalijodo satu per satu mulai pergi meninggalkan dan pergi dari kawasan Kalijodo. Sebagian dari mereka yang mengotrak rumah pergi untuk mencari temapat lain, sedangkan pemilik rumah serta warga DKI direlokasi ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda, Pulogebang, dan Daan Mogot.
![]() |
| beberapa orang yang terlihat sedang membongkar sisa barang mereka |
Kepergian warga dari Kalijodo tak mudah seperti membalikan telapak tangan. Pada awal-awal recana pengusuran Kalijodo bergulir, warga dengan keras menolak. mereka tak mau rumahnya diratakan dengan tanah dan hidup berkatung-katun. belum lagi soal mata pencaharian warga di Kalijodo yang serba enak.
Di balik semua itu, penolakan paling keras datang dari Abdul Aziz atau Daeng Azis. Sebagai warga gembira. Azis yang disebut-sebut sebagai "Bos gede" langsung bergerilya. Salah satunya menggalang warga Kalijodo, terutama yang berada di Penjaringan, agar tak mau mendaftarkan diri untuk mendapatkan rusun.
Rustam Effendi selaku Wali Kota Jakarta Utara mengatakan, Daeng Azis melakukan intimidasi terhadap warga Kalijodo yang bersedia direlokasi. Sebab, menurut dia, banyak warga Kalijodo yang mencabut pendaftaran diri mereka untuk di relokasi ke rumah susun.
Sebelumnya ada 24 orang yang mendaftarkan diri agar bisa mendapatkan rumah susun. namun, jumlahnya berkurang menjadi 10 orang."memang masyarakat juga masih ada yang diintimidasi oleh Daeng Azis dan Kroninya. RT saja sekarang tidak berani buat menyampaikan informasi, takut dengan Daeng Aziz," katanya.
Sementara itu, pengacara warga Kalijodo, Razman Arif Nasution, membantah adanya preman yang mengancam warga Kalijodo untuk masuk ke rusun."Jadi, terkait dengan adanya intimidasi, itu provokatif. Tidak benar ada preman disini yang mengintimidasi orang supaya jangan mau pindah atau jangan mau patuh dengan surat edaran atau Perintah dari Gubernur itu.
Berbeda dengan warga Kalijodo di Tambora, Jakarta Barat, wilayah tersebut sudah dari awal berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri mendapatkan rumah susun. karena mereka sadar karena tempat mereka yang mereka tempati adalah tanah negara.
Perlahan, tetapi pasti. begitu kira-kira kalimat yang bisa diberikan untuk warga relokasi warga Kalijodo. Warga dikawasan prostitusi tersebut mulai sadar diri dan meninggalkan kawasan tersebut, apalagi setelah melihat Azis dan Kroninya, seperti Daeng Nakku dan Ali, diajdikan tersangka.
Semua warga seperti tak lagi takut dengan Azis. Intimidasi pun tak lagi di terima. Mereka dengan terang-terangan mengemasi barangnya dan mendaftar untuk tinggal di rumah susun atau pulang ke kampung halaman. dari data yang tercatat, setidaknya warga Kalijodo di penjaringan yang di relokasi ke rusun iyalah sebanyak 175 kepala keluarga (KK) dari total 202 KK.
Jumlah tersebut terus bertambah dari sejak pemberian surat perintah 1 pada tanggal 18 Februari 2016 silam. warga Kalijodo di Tambora disebut sudah 100 persen direlokasi ke rusun. jumlah warga yang direlokasi ialah sebanyak 130 KK. kini, Kalijodo bak "kota mati. Kafe-kafe ditinggalkan pemilik dan pekerja seks komersilnya.
Yang tersisa didalam kafe hanyalah tersisa baju-baju dan alat kontrasepsi yang berserakan, sedangkan isi kafe habis dijarah warga dan pemulung. bahkan, sebagian kafe juga sudah dibongkar sendiri oleh pemiliknya. sementara itu, rumah-rumah warga juga sudah mulai ditinggalkan.
Dengan Perlahan-lahan Mereka satu per satu pindah ke rumah susun dan mencari tempat lain untuk menyambung hidup. sebab hidup harus terus berlanjut meskipun tidak di Kalijodo, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi terutama untuk biaya hidup.
Di balik semua itu, penolakan paling keras datang dari Abdul Aziz atau Daeng Azis. Sebagai warga gembira. Azis yang disebut-sebut sebagai "Bos gede" langsung bergerilya. Salah satunya menggalang warga Kalijodo, terutama yang berada di Penjaringan, agar tak mau mendaftarkan diri untuk mendapatkan rusun.
Rustam Effendi selaku Wali Kota Jakarta Utara mengatakan, Daeng Azis melakukan intimidasi terhadap warga Kalijodo yang bersedia direlokasi. Sebab, menurut dia, banyak warga Kalijodo yang mencabut pendaftaran diri mereka untuk di relokasi ke rumah susun.
Sebelumnya ada 24 orang yang mendaftarkan diri agar bisa mendapatkan rumah susun. namun, jumlahnya berkurang menjadi 10 orang."memang masyarakat juga masih ada yang diintimidasi oleh Daeng Azis dan Kroninya. RT saja sekarang tidak berani buat menyampaikan informasi, takut dengan Daeng Aziz," katanya.
Sementara itu, pengacara warga Kalijodo, Razman Arif Nasution, membantah adanya preman yang mengancam warga Kalijodo untuk masuk ke rusun."Jadi, terkait dengan adanya intimidasi, itu provokatif. Tidak benar ada preman disini yang mengintimidasi orang supaya jangan mau pindah atau jangan mau patuh dengan surat edaran atau Perintah dari Gubernur itu.
Berbeda dengan warga Kalijodo di Tambora, Jakarta Barat, wilayah tersebut sudah dari awal berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri mendapatkan rumah susun. karena mereka sadar karena tempat mereka yang mereka tempati adalah tanah negara.
Perlahan, tetapi pasti. begitu kira-kira kalimat yang bisa diberikan untuk warga relokasi warga Kalijodo. Warga dikawasan prostitusi tersebut mulai sadar diri dan meninggalkan kawasan tersebut, apalagi setelah melihat Azis dan Kroninya, seperti Daeng Nakku dan Ali, diajdikan tersangka.
Semua warga seperti tak lagi takut dengan Azis. Intimidasi pun tak lagi di terima. Mereka dengan terang-terangan mengemasi barangnya dan mendaftar untuk tinggal di rumah susun atau pulang ke kampung halaman. dari data yang tercatat, setidaknya warga Kalijodo di penjaringan yang di relokasi ke rusun iyalah sebanyak 175 kepala keluarga (KK) dari total 202 KK.
Jumlah tersebut terus bertambah dari sejak pemberian surat perintah 1 pada tanggal 18 Februari 2016 silam. warga Kalijodo di Tambora disebut sudah 100 persen direlokasi ke rusun. jumlah warga yang direlokasi ialah sebanyak 130 KK. kini, Kalijodo bak "kota mati. Kafe-kafe ditinggalkan pemilik dan pekerja seks komersilnya.
Yang tersisa didalam kafe hanyalah tersisa baju-baju dan alat kontrasepsi yang berserakan, sedangkan isi kafe habis dijarah warga dan pemulung. bahkan, sebagian kafe juga sudah dibongkar sendiri oleh pemiliknya. sementara itu, rumah-rumah warga juga sudah mulai ditinggalkan.
Dengan Perlahan-lahan Mereka satu per satu pindah ke rumah susun dan mencari tempat lain untuk menyambung hidup. sebab hidup harus terus berlanjut meskipun tidak di Kalijodo, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi terutama untuk biaya hidup.







0 komentar:
Posting Komentar