Pages - Menu

▼

Senin, 21 Maret 2016

MCBerita - Terima kasih Sudah Bantu Buktikan Ahok Masih Cukup Sopan kok

MCBerita


MCBerita -  "Terima kasih Om Ridwan Kamil. Kamu sudah bantu buktikan kalo Ahok masih cukup sopan kok. Sekasar-kasarnya dia, cuma mulutnya yang tajam. Support RK!"



MCBerita
Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, mencontohkan bagaimana dia memegang pipi Taufik Hidayat, sopir gelap yang mengklaim ditampar, Senin (21/3/2016)

Kata-kata di atas adalah cuitan seorang netizen yang memiliki akun @hariadhi yang saya kutip dari sini dimana netizen tersebut mengomentari kasus tuduhan terhadap Ridwan Kamil yang dilaporkan telah menganiaya seorang sopir angkot. 

Aya aya wae netizen teh... Walikota Bandung yang dituduh, mulut Ahok dibawa-bawa. Seperti yang diberitakan oleh banyak media, walikota yang sering dipanggil Kang Emil ini dilaporkan Taufik Hidayat, 42 tahun, ke Kepolisian Daerah Jawa Barat atas tuduhan penganiayaan. Kasus bermula saat Taufik, sopir angkot ilegal yang sedang menunggu penumpang di shelter bus di alun-alun Kota Bandung, Jumat, 18 Maret 2016, ditegur oleh Kang Emil.

 Ketika itu pula lah peristiwa dugaan penamparan terhadap Taufik terjadi. Karuan saja aksi Walikota Bandung ini menuai banyak komentar di medsos. Di antaranya cuitan yang membanding-bandingkan Ridwan Kamil dengan Ahok, Gubernur DKI, di atas. 

Walaupun saya pribadi bingung juga, lha di mana korelasinya? Kecuali kalau yang ditampar itu sopirnya Pak Ahok. Hehe... Mungkin yang dimaksud netizen itu adalah kata-kata kasar dan dianggap tidak sopan yang sering keluar dari mulut Ahok, tapi gitu-gitu juga Ahok tidak pernah menganiaya secara fisik orang lain, apalagi sampai menampar sopir angkot. 

Semua orang sepakat bahwa sikap dan kata-kata kasar Ahok itu salah. Ahok seharusnya bisa menjaga etika dan etiket. Etika lebih memuat substansi tentang pertimbangan moral, baik dan salah, atau melakukan sebuah tindakan dengan niat untuk kebenaran. Sementara, etiket lebih kepada tata krama, sopan santun, cara bertutur, dan cara bersikap.

Namun, dalam mengomandani kinerja oknum pemerintahannya yang dianggap tidak memiliki niat memikirkan kepentingan publik, belum lagi menghadapi maling dan begal-begal APBD, Ahok dihadapkan pada pilihan sulit dan harus memilih salah satu diantaranya: etika atau etiket. Dan, Ahok pun memilih etika. 

Ridwan kamil sendiri walaupun membantah dia melakukan aksi penganiayaan seperti apa yang dilaporkan Taufik itu. Tapi seperti yang disarikan dari akun Twitter-nya @ridwankamil, Senin, 21 Maret 2016: "Kalau sama preman yang memaksa-maksa warga kayak gitu, saya pasti kasar. Support kota tertib." 

Bagi pria yang yang pernah digadang-gadang sebagai pesaing Ahok terkuat pada Pilgub DKI 2017 itu, inilah bagian dari risiko menertibkan. Sopir itu menurutnya sudah jelas membawa mobil dan mengangkut penumpang tanpa izin. “...Melanggar aturan dan enggak bawa STNK. Udah sering saya tertibkan baik-baik, tapi bandel wae. Saya harus bagaimana lagi?" ucapnya. 

Baik kata-kata kasar Ahok maupun tindakan kasar Ridwan Kamil itu, dari tinjauan berbagai pakar psikologi, adalah karena dipicu oleh rasa frusrasi pada perilaku sebagian besar masyarakat yang mengabaikan kepentingan publik. Bagi Ahok: maling ya maling, mosok harus dipanggil malaikat. 

Demikian juga bagi Ridwan Kamil, dia akan kasar kepada preman yang memaksa-maksa warga dan mengganggu ketertiban umum. Lha, keduanya mirip dong kalau gitu? Terus kenapa harus dibanding-bandingin...?

"Terima kasih Om Ridwan Kamil. Kamu sudah bantu buktikan kalo Ahok masih cukup sopan kok. Sekasar-kasarnya dia, cuma mulutnya yang tajam. Support RK!" Kata-kata di atas adalah cuitan seorang netizen yang memiliki akun @hariadhi yang saya kutip dari sini dimana netizen tersebut mengomentari kasus tuduhan terhadap Ridwan Kamil yang dilaporkan telah menganiaya seorang sopir angkot. Aya aya wae netizen teh... Walikota Bandung yang dituduh, mulut Ahok dibawa-bawa. Seperti yang diberitakan oleh banyak media, walikota yang sering dipanggil Kang Emil ini dilaporkan Taufik Hidayat, 42 tahun, ke Kepolisian Daerah Jawa Barat atas tuduhan penganiayaan. Kasus bermula saat Taufik, sopir angkot ilegal yang sedang menunggu penumpang di shelter bus di alun-alun Kota Bandung, Jumat, 18 Maret 2016, ditegur oleh Kang Emil. Ketika itu pula lah peristiwa dugaan penamparan terhadap Taufik terjadi. Karuan saja aksi Walikota Bandung ini menuai banyak komentar di medsos. Di antaranya cuitan yang membanding-bandingkan Ridwan Kamil dengan Ahok, Gubernur DKI, di atas. Walaupun saya pribadi bingung juga, lha di mana korelasinya? Kecuali kalau yang ditampar itu sopirnya Pak Ahok. Hehe... Mungkin yang dimaksud netizen itu adalah kata-kata kasar dan dianggap tidak sopan yang sering keluar dari mulut Ahok, tapi gitu-gitu juga Ahok tidak pernah menganiaya secara fisik orang lain, apalagi sampai menampar sopir angkot. Semua orang sepakat bahwa sikap dan kata-kata kasar Ahok itu salah. Ahok seharusnya bisa menjaga etika dan etiket. Etika lebih memuat substansi tentang pertimbangan moral, baik dan salah, atau melakukan sebuah tindakan dengan niat untuk kebenaran. Sementara, etiket lebih kepada tata krama, sopan santun, cara bertutur, dan cara bersikap. Namun, dalam mengomandani kinerja oknum pemerintahannya yang dianggap tidak memiliki niat memikirkan kepentingan publik, belum lagi menghadapi maling dan begal-begal APBD, Ahok dihadapkan pada pilihan sulit dan harus memilih salah satu diantaranya: etika atau etiket. Dan, Ahok pun memilih etika. Ridwan kamil sendiri walaupun membantah dia melakukan aksi penganiayaan seperti apa yang dilaporkan Taufik itu. Tapi seperti yang disarikan dari akun Twitter-nya @ridwankamil, Senin, 21 Maret 2016: "Kalau sama preman yang memaksa-maksa warga kayak gitu, saya pasti kasar. Support kota tertib." Bagi pria yang yang pernah digadang-gadang sebagai pesaing Ahok terkuat pada Pilgub DKI 2017 itu, inilah bagian dari risiko menertibkan. Sopir itu menurutnya sudah jelas membawa mobil dan mengangkut penumpang tanpa izin. “...Melanggar aturan dan enggak bawa STNK. Udah sering saya tertibkan baik-baik, tapi bandel wae. Saya harus bagaimana lagi?" ucapnya. Baik kata-kata kasar Ahok maupun tindakan kasar Ridwan Kamil itu, dari tinjauan berbagai pakar psikologi, adalah karena dipicu oleh rasa frusrasi pada perilaku sebagian besar masyarakat yang mengabaikan kepentingan publik. Bagi Ahok: maling ya maling, mosok harus dipanggil malaikat. Demikian juga bagi Ridwan Kamil, dia akan kasar kepada preman yang memaksa-maksa warga dan mengganggu ketertiban umum. Lha, keduanya mirip dong kalau gitu? Terus kenapa harus dibanding-bandingin...?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/laurairawati/ridwan-kamil-yang-aniaya-sopir-angkot-lha-mulut-ahok-yang-dibawa-bawa_56f040c3c222bdcc0cc02061
"Terima kasih Om Ridwan Kamil. Kamu sudah bantu buktikan kalo Ahok masih cukup sopan kok. Sekasar-kasarnya dia, cuma mulutnya yang tajam. Support RK!" Kata-kata di atas adalah cuitan seorang netizen yang memiliki akun @hariadhi yang saya kutip dari sini dimana netizen tersebut mengomentari kasus tuduhan terhadap Ridwan Kamil yang dilaporkan telah menganiaya seorang sopir angkot. Aya aya wae netizen teh... Walikota Bandung yang dituduh, mulut Ahok dibawa-bawa. Seperti yang diberitakan oleh banyak media, walikota yang sering dipanggil Kang Emil ini dilaporkan Taufik Hidayat, 42 tahun, ke Kepolisian Daerah Jawa Barat atas tuduhan penganiayaan. Kasus bermula saat Taufik, sopir angkot ilegal yang sedang menunggu penumpang di shelter bus di alun-alun Kota Bandung, Jumat, 18 Maret 2016, ditegur oleh Kang Emil. Ketika itu pula lah peristiwa dugaan penamparan terhadap Taufik terjadi. Karuan saja aksi Walikota Bandung ini menuai banyak komentar di medsos. Di antaranya cuitan yang membanding-bandingkan Ridwan Kamil dengan Ahok, Gubernur DKI, di atas. Walaupun saya pribadi bingung juga, lha di mana korelasinya? Kecuali kalau yang ditampar itu sopirnya Pak Ahok. Hehe... Mungkin yang dimaksud netizen itu adalah kata-kata kasar dan dianggap tidak sopan yang sering keluar dari mulut Ahok, tapi gitu-gitu juga Ahok tidak pernah menganiaya secara fisik orang lain, apalagi sampai menampar sopir angkot. Semua orang sepakat bahwa sikap dan kata-kata kasar Ahok itu salah. Ahok seharusnya bisa menjaga etika dan etiket. Etika lebih memuat substansi tentang pertimbangan moral, baik dan salah, atau melakukan sebuah tindakan dengan niat untuk kebenaran. Sementara, etiket lebih kepada tata krama, sopan santun, cara bertutur, dan cara bersikap. Namun, dalam mengomandani kinerja oknum pemerintahannya yang dianggap tidak memiliki niat memikirkan kepentingan publik, belum lagi menghadapi maling dan begal-begal APBD, Ahok dihadapkan pada pilihan sulit dan harus memilih salah satu diantaranya: etika atau etiket. Dan, Ahok pun memilih etika. Ridwan kamil sendiri walaupun membantah dia melakukan aksi penganiayaan seperti apa yang dilaporkan Taufik itu. Tapi seperti yang disarikan dari akun Twitter-nya @ridwankamil, Senin, 21 Maret 2016: "Kalau sama preman yang memaksa-maksa warga kayak gitu, saya pasti kasar. Support kota tertib." Bagi pria yang yang pernah digadang-gadang sebagai pesaing Ahok terkuat pada Pilgub DKI 2017 itu, inilah bagian dari risiko menertibkan. Sopir itu menurutnya sudah jelas membawa mobil dan mengangkut penumpang tanpa izin. “...Melanggar aturan dan enggak bawa STNK. Udah sering saya tertibkan baik-baik, tapi bandel wae. Saya harus bagaimana lagi?" ucapnya. Baik kata-kata kasar Ahok maupun tindakan kasar Ridwan Kamil itu, dari tinjauan berbagai pakar psikologi, adalah karena dipicu oleh rasa frusrasi pada perilaku sebagian besar masyarakat yang mengabaikan kepentingan publik. Bagi Ahok: maling ya maling, mosok harus dipanggil malaikat. Demikian juga bagi Ridwan Kamil, dia akan kasar kepada preman yang memaksa-maksa warga dan mengganggu ketertiban umum. Lha, keduanya mirip dong kalau gitu? Terus kenapa harus dibanding-bandingin...?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/laurairawati/ridwan-kamil-yang-aniaya-sopir-angkot-lha-mulut-ahok-yang-dibawa-bawa_56f040c3c222bdcc0cc02061

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. ▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬
    TARUHAN ONLINE KAMBOJA
    ▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬

    Kami Menyediakan Berbagai Promo Menarik Untuk
    Member Setia Kami Yaitu:
    Bonus New Member 50% LANGSUNG
    Bonus Next Depo 5% BEBAS
    Bonus Cashback 10% HITUNGAN TIAP MINGGU

    TANGKASNET ✯ 368MM TANGKAS ✯ 88TANGKAS ✯ SABUNG AYAM ✯ SBOBET ✯ IBCBET ✯ ISIN4D ✯ ROYAL KENO ✯ GG626 (tembak ikan)

    WWW•BOLASTATION•NET

    LIVECHAT
    BB: 52E67404
    WHATSAPP: +85581739597
    YAHOO: bola.station
    SMS: +85581739597
    SMS: +6282370001982

    ▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬
    POKER DOMINO ONLINE KAMBOJA
    ▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬♚♦♣♥♛▬▬▬

    BONUS NEW MEMBER ( 10% LANGSUNG )
    Bonus Cashback ( 1% Tiap Minggu )
    Bonus Turnover ( 0.2% Tiap Minggu )
    Bonus Referensi ( 10% Seumur Hidup )

    TEXAS HOLDEM POKER ✯ DOMINO Q-KICK ✯ CEME(Adu-Q) ✯ BLACKJACK ✯ CAPSA SUSUN

    semua Dapat Dimainkan Hanya Dalam 1 User ID.
    Dengan Minimal Deposit Hanya 15.000

    WWW•POKERSTATIONS•COM

    LIVECHAT
    BB:58EEEB9D
    WHATSAPP:+85515572209
    YAHOO:cs_pqs@yahoo.com
    SMS:+85515572209

    BalasHapus