MCBerita
MCBerita, Jakarta - Komisi I DPR mengusulkan TNI menjadi garda terdepan dalam penanganan teroris dan narkoba. Hal itu berkaca dari perkembangan di negara-negara maju. "Terorisme, separatisme, narkoba dan seterusnya yang oleh banyak negara, mereka telah menggunakan militer untuk menghadapinya," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq di Mako Kopassus, Cijantung, Jaktim, Kamis (10/3/2016).
Komisi I DPR mengingatkan jajaran TNI tentang amanat Tugas Pokok dan
Fungsi (Tupoksi) TNI untuk melakukan operasi militer selain 14 jenis
kegiatan di antaranya terorisme dan separatisme. "Tapi sampai sekarang regulasi yang ada belum memberikan pintu masuk
melibatkan TNI secara luas untuk menghadapi operasi militer selain
perang yang seperti tadi saya sudah katakan.
Perang sekarang ini sifatnya proxy (perang proksi)," kata Mahfudz. Menurut dia, persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia meminta
agar TNI secepatnya menyusun rencana anggaran. "KSAD untuk mulai
menyusun rencana kekuatan TNI untuk melaksanakan operasi militer selain
perang," tuturnya.
Dalam kesempatan terpisah, anggota Komisi I DPR Zainuddin Amali
berpendapat penanganan terorisme oleh TNI dimaknai dalam penjaringan
informasi sehingga kekuatan Polri bisa ditambahkan. "Ya cuma harus
proporsional sehingga HAM tetap terjaga, kita aktif. Tapi tetap menjaga
HAM," tutur Zaenuddin.
Selain itu, kata dia, kekuatan TNI dapat digunakan dalam pendeteksian.
"Secara proporsional, mereka dilibatkan dari awal. Mereka punya intel
jangan sudah terjadi baru. Kita setuju bahkan pendeteksian dini. Boleh
deteksi, boleh curiga tapi tidak boleh langgar HAM," ujar dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar